Kisah Pertualangan Asep
Kisah Pertualangan Asep
Asep, kontraktor kelas teri yang sehari-hari tinggal di Kota Cimahi, berhasil mendapatkan tender kelas kakap di kabupaten Bandung. Setelah proyek berjalan seminggu, dia merasa sangat kecapean. Setiap hari dia harus menempuh 2 x 2,5 jam perjalanan. dengan mobil pick up bututnya yang sudah loyo. Dia mengeluh badannya pegal dan kepalanya sakit. Setelah berhitung dengan cermat dan berdiskusi dengan istrinya, maka dia memutuskan mengontrak sebuah kamar sederhana yang lokasinya tidak jauh dari proyek yang sedang dikerjakan.
Kamar kontrakkannya terletak ditengah tengah perkampungan yang sangat padat penduduk. Setiap hari ke proyek, dia pergi dan pulang berjalan kaki. Selama hampir dua minggu, setelah tersesat dan nyasar berapa kali, akhirnya dia menemukan jalan terpendek dari kamar kontrakannya menuju lokasi proyek.
Dia tidak lagi melalui gang gang lebar yang bisa dilalui motor, tapi dia melalui gang gang kecil yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Jika dia berjalan melalui gang gang yang lebar, waktu tempuhnya sekitar 20 menit berjalan kaki cepat. tapi jika dia menempuh gang-gang kecil itu dengan berjalan santai dapat ditempuh dalam waktu 10 menit.
Setiap pagi dan sore, dia dengan puluhan pejalan kaki lainnya melewati gang kecil itu hingga tiba diujung gang yang besar. Dari gang yang besar itu lokasi proyeknya sudah terlihat, dia tinggal menyebrangi jalan kabupaten, sampailah dia dilokasi proyek.
Baru saja seminggu menjadi pelanggan gang-gang kecil itu, banyak kenalan yang dia dapat. Dari buruh pabrik sampai penjual mes cendol. Asep merasa gembira.
Hari itu Asep bangun kesiangan. Semalam dia pulang larut karena kiriman barang telat dan dia juga harus menyelesaikan administrasinya. Dia berangkat dari rumah kontrakannya jam 10.
Saat melangkah di sepanjang gang kecil itu, dia merasa aneh karena suasananya lenggang. Tak ada buruh pabrik yang berjalan tergesa, tukang es cendol yang santai mau ke pasar, emak-emak berjalan sambil bergunjing.. sama sekali tidak kelihatan. Sepanjang gang tersebut sepi.
Ketika Asep melewati gang yang paling kecil, diteras sebuah rumah dia melihat ada seorang cewek yang sedang duduk sambil memegang HP. Dia duduk dengan kedua kakinya naik ke atas kursi dan agak mengangkang. Kedua tangan cewek itu ada diatas pahanya. Kesepuluh jari jemarinya sedang asik menari nari diatas screen HP sambil senyam senyum. Sebetulnya dia mengenakan rok yang panjang, tapi entah bagaimana lapisan rok bagian atasnya hanya menutupi 3 cm dibawah lututnya. Itu berarti 95% betisnya tidak tertutup.
Asep adalah lelaki normal, usianya baru 38 tahun. Sejenak dia menghentikan langkah, melirik dengan ujung matanya, menikmati betis dan paha putih bersih yang mulus serta celana dalam berwarna kuning pias tanpa motif.
Ditengah-tengah pucuk celana dalam itu ada sebuah belahan sepanjang 3 atau 4 cm yang terlipat dan terselip. Dia melihat dengan jelas lipatan itu basah, soalnya jaraknya dengan cewek itu paling jauh juga 2 meter.
Tiba - tiba Asep melihat satu tangan cewek itu bergerak ke arah belahan celana dalamnya dan jarinya menggosok-gosoknya. Cewek itu mendadak sadar ternyata ada orang yang berjalan di gang depan rumahnya.
"Maaf. Permisi."kata Asep
Mata cewek itu melotot. Tapi Asep merasa aneh, walau cewek itu melotot tapi kelihatannya tidak benar-benar marah.
Öm, ngintip ya." Tuduhnya.
Ënggak."Kata Asep gugup. "Saya cuma tak sengaja ngelihat..."
"Wew!"Kata Cewek itu sambil menjebiban bibirnya dan masuk kedalam rumahnya.
Dua hari setelah kejadian itu, Asep pulang agak malam, sekitar jam 9. Dia melewati rute yang sama dan ketika menemukan gang yang paling kecil itu, dari arah sebaliknya, dia melihat cewek itu sedang berciuman dengan seorang cowok, yang kemungkinan besar adalah pacarnya.
Asep merandek. Dia melihat cowok itu selain menciumi mulut cewek itu dia juga mengoles oles belahan celana dalam si cewek dengan asiknya.
Üdah ah."Kata si cewek
Äh terus ah."kata si cowok.
"Kalau terus digituin, neneng gak kuat aa."
"Ga kuat pengen ya."
Si cewek yang bernama Neneng itu menjebikan mulutnya.
"Sok tahu ah."Katanya
"Ke belakang yuk?"Ajak si cowok.
"Mau ngapain?"
"Nih pegang kontol aa udah ngaceng, memek neneg juga udah basah.. yuk ke belakang."
Si Neneng tidak menjawab. Tapi Asep melihat mereka berjalan dengan hati-hati ke gang disebelah rumahnya yang sempit dan gelap.
Keesokan harinya, Asep berangkat agak siang. Ketika melewati gang kecil itu, dia melihat Neneg sedang duduk sambil bermain HP.
"Permisi."Katanya. Tapi neneng tidak menjawab. Setelah melangkah beberapa meter, tiba-tiba cewek itu memanggilnya.
Eh, Om, sebentar."Katanya. Asep menghentikan langkahnya.
Äda apa ya?"
Öm, punya internet ga? tetringan sebentar aja. Kuota Neneng habis."Katanya.
"Kebetulan, kuota Om juga habis. Ini mau cari pulsa ke depan."
"Jangan ke depan Om jauh, dibelakang juga ada yang jualan pulsa."Kata Neneng, "Lewat sini Om, tapi Neneng juga dibeliin ya Om, yang 10 ribu aja."
"Boleh. Kemana jalannya?"
Neneg kemudian menuntun Asep menyusuri gang yang sempit itu, keluar dari gang sempit itu mereka memasuki halaman belakang sebuah rumah yang tidak terawat. Dari situ ada gang sempit lain yang menuju gang besar yang bisa dilalui motor. Di gang bear itulah ada penjual pulsa.
Dia membeli pulsa untuk dirinya sendiri dan untuk Neneng, dia membelikan pulsa 20 ribu. Neneng melonjak gembira.
Mereka kembali melalui rute semula setelah pulsa berhasil masuk, ketika berada di halaman belakang rumah yang tidak terawat itu, Asep tak sengaja menginjak kerikil sehingga dia hampir terjatuh, tangannya gelalapan mencari pegangan. Tak sengaja dia meraih tangan Neneng dan berhasil menyeimbangkan diri.
"Maaf."
"Ga pa pa, Om."
"Terima kasih Neneg yang cantik."
Dipuji begitu wajah Neneng yang berwarna putih menjadi kemerahan.
"Neneng yang harusnya makasih udah dibeliin pulsa."
"Sama-sama deh kalo begitu."kata Asep.
Öm mau pergi kerja ya?"
Ïya. Ini udah kesiangan."
"Kerja dimana Om?"
"Di proyek di depan."
Öm, udah punya istri belum?"
Üdah. Memang kenapa?"
"Mmm.. enggak... Om kemarin ngintip Neneng waktu main HP ya?"
Ënggak, kebetulan lewat saja."
"Tapi ngeliatin celana dalam Neneng kan?"
Ïya. Emang kenapa?" kan Om punya mata."
Ïya tapi waktu itu mata Om kayak orang melotot?"
Äh, masa?"
"Kirain Om marah."
"Masa Om marah sih? Gemes malahan..eh."Asep kaget dengan apa yang dikatakannya secara spontan.
"Gemes? Maksudnya apa itu Om?"
Ënggak.. maksudnya... maksudnya..."
Melihat Asep gugup, Neneng malah tertawa cekikikan.
Üdah deh Om ga pa pa. Neneng cuma bercanda."
Selama satu minggu, Asep pergi ke beberapa kota untuk menemukan bahan baku terbaik dan termurah untuk pelaksanaan proyek tersebut. Meskipun deal sudah dilakukan sebelumnya melalui HP, namun Asep punya kebiasaan melakukan pengecekan secara langsung.
Setelah kembali ke kamar kontrakannya, Asep melakukan aktivitas seperti biasanya. Pergi pulang jalan kaki.
Sore itu, ketika dia pulang melewati gang kecil itu, Neneng ada di teras dengan mengenakan seragam putih abu abu.
"Kamu tuh kerjaaanya minta pulsa melulu."Suara seorang perempuan terdengar nyaring.
"Mamah... 10 ribu aja."
"Ga ada!"Terdengar pintu dibanting. Neneng duduk terdiam di teras ketika Asep lewat persis didepannya. Asep tersenyum.
Ëh Om kemana aja?"
Äda. Cuma enggak lewat sini."Asep berbohong.
Öm, minta pulsa donk."
"Boleh. Berapa?"
"10 ribu aja."
Ïtu tadi ibumu ya?"
Ïya itu mamah."
"Pulsanya transferin aja Om."
Öm ga bisa transfernya. Sama Neneg aja nih."Kata Asep sambil memberikan HPnya.
Ëh, Om masuk dulu. Mau Neneng bikinin kopi?"
"Jangan, ga usah."Asep masuk ke teras dan duduk disamping Neneng.
Öm pulsanya banyak banget. Boleh ya minta 20 ribu?"
"Jangankan 20 ribu, semuanya juga boleh."
"Beneran?"
"Bener."
"Serius?"
"Serius."
"Ya, udah, kalau begitu 50 ribu aja ya? Ga pa pa kan Om?"
"Ga pa pa."Kata Asep sambil meringis.
Öm, kenapa meringis?"
Ïni, Neng, Om daritadi nahan pipis."
"Ke kamar mandi aja, apa susahnya."
"Wah, jangan, nanti ibumu gimana?"
"Mamah udah pergi kerja, barusan lewat belakang."
"Bapak?"
"Belum pulang, nanti jam 10 malam."
Asep memasuki rumah yang sederhana itu dan menemukan kamar mandinya yang terletak di belakang. Selesai kencing, dia keluar kamar mandi dan melihat Neneng masuk ke dalam rumah.
Üdah belum?"
Öh udah ya."kata neneng. Öm waktu itu Om dulu bilang gemes itu maksudnya pengen nyolek ya? Jawab yang jujur ya Om."
Ïtu... Maksudnya...bukan... tapi Om pengen..."
"Pengen apa?"
"Mmmm... "
Öm mau lihat lagi gak??
Asep terdiam.
Neneng tiba-tiba duduk di kursi sofa dan menyingkapkan roknya, dia lalu membuka lebar kedua pahanya. Terlihat celana dalamnya yang putih.
"Lihat Om sini, yang dekat." => Apa yang dilihat Asep <=
Asep mendekat dan membungkuk.
"Gemes ga Om?"
Asep mengangguk.
"Sekarang kalo udah gemes, pengen apa?"
"Pengen... pengen... ngejilatin. Boleh ga?"
Ënggak boleh. Harus dimar."Kata neneng terkikik.
Neneng pergi ke kamar diikuti Asep. Dia melepaskan rok dan celana dalamnya sekaligus. Dia lalu berbaring di ranjang dan membentangkan ke dua pahanya yang putih mulus.
Asep tahu Neneng sudah tidak perawan. Tapi benda mungil di hadapannya memang lucu dan menggemaskan. Kedua jari jemari Asep membekap buah pantat Neneng yang kenyal. Sambil berlutu, dia mendekatkan wajahnya ke arah benda mungil yang indah itu. Dengan kedua jempolnya, Asep mencoba membeliakkan bibir-bibir itu agar terbuka lebih lebar.
Lubang yang sempit, klitoris yang genit mengintip, bibir-bibir labia minora yang kemerahan... membuat Asep terpesona. Dia menatap semuanya itu dengan penuh kekaguman.
Ïni adalah memek remaja yang indah."Katanya dalam hati.
Perlahan dia menjilatinya secara sistematis. Dari bawah dekat lubang pantat, menyisir ke pinggiran paha, terus naik ke pubis yang dijembuti bulu-bulu halus. Setelah itu dia menyisir bibir-bibir bagian luar sekelilingnya, lalu bagian dalam... clitoris yang sedang mengintip malu-malu itu dilahapnya dengan lembut, digoyang-goyangkan dengan lidahnya... lalu dia menjulurkan lidahnya, menyusupkannya ke dalam liang memek yang masih sempit itu.
Asep tentu saja mendengar Neneng mengerang-erang seperti orang kesurupan. Tapi Asep tidak peduli. Dia terus melakukan itu sampai Neneng merintih-rintih meminta kontolnya dimasukan.
Öm... kontol..Om."
Penis Asep tentu saja sudah menegang dari tadi. Dia melepaskan pantolan hitam beserta celana dalamnya sekaligus. Dia memasukkan penisnya perlahan agar dapat menikmati denyar denyar liang memek Neneng yang hangat.
Perlahan Asep membenamkan seluruh batang penisnya sampai habis. Menahannya sebentar. Kemudian menggenjotnya naik turun perlahan, lalu cepat, perlahan lagi.. tahan dulu. Dia ingin merasakan denyutan-denyutan itu.
Dia menggenjotnya perlahan, lalu agak cepat, lalu cepat... Asep bisa merasakan letupan itu. Ketika Neneng mengerang setengah menjerit dan tubuhnya gemetaran seperti orang kena penyakit ayan.
Sebelum Asep akhirnya meledakkan spremanya di dalam memek Neneng, dia melakukan genjotan terakhir dengan kecepatan tinggi.
Ughh!!!!
Crot... crot... serrrr... serrr... serrr
Selama 9 bulan mengerjakan proyek itu, entah berapa kali Asep mengentot Neneng. Dia lupa. Tapi minimal ! minggi ! kali, kadang 2 atau 3 kali. Asep merasa bersyukur Neneng tidak hamil karena dia selalu ngecrot di dalam.
Asep tak pernah pelit jika Neneng meminta uang. Apalagi yang dimintanya tidak banyak, paling 500 ribu. Tapi dia pernah minta satu juta, Asep memberinya sambil tersenyum.
Beberapa bulan setelah proyek itu selesai dan kembali ke Cimahi, Asep pernah merasa kangen pada Neneng. Dia pernah satu kali datang ke rumah itu tapi ternyata Neneng sudah menikah dan pindah ke tempat lain.
Tapi Asep tidak begitu kecewa karena pertualangan lainnya akan selalu ada menunggunya.
= > SitusJudiOnline <=





Komentar
Posting Komentar