Maraknya Hoax Corona Virus, WHO Main TikTok Demi Mengedukasi Publik
TikTok itu sudah seperti platform iklan layanan masyarakat sekarang
Sejauh ini, wabah virus corona (COVID-19) telah menginfeksi 90.932 orang di seluruh dunia-termasuk dua kasus dari Indonesia-dan menewaskan 3.129 jiwa. Meski 48.173 pasien sudah dinyatakan sembuh, penyakit ini keburu memicu ketakutan publik dan teori konspirasi liar, seperti orang yang kena corona virus dapat berubah menjadi zombie.
Sejumlah orang bahkan percaya bisa sembuh dengan minum cairan pemutih, dan bir Corona ada kaitannya dengan virus mematikan. Serangkaian berita palsu tersebut berkeliaran bebas didunia maya, terutama platform TikTok yang digandrungi anak muda.
Di saat kebanyakan orang main TikTok untuk menghibur diri, tak sedikit yang sengaja memanfaatkan momen ini buat panjat sosial. Mereka pura-pura kena corona virus, atau bahkan menyebarkan berita palsu di sana. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sampai bikin TikTok untuk menghalau hoaks yang bertebaran dan mengajarkan publik cara pencegahan corona virus.
Selaku pimpinan teknis bagian Pencegahan dan Pengendalian Infeksi WHO, Benedetta Allegranzi memuli video pertama dengan menjabarkan tindakan melindungi diri, seperti menutup hidung ketika bersin dan menghindari kontak dengan orang yang menunjukan gejala demam. Dalam video kedua, Dr April Baller dari Health Emergencies Programme WHO mengajarkan cara pakai masker dengan benar dan apa saja yang perlu diperhatikan sebelum mengenakannya.
Who menyebutkan penyebaran berita palsu ini sebagai 'infodemik'. Mereka secara aktif meningkatkan kesadaran dan langkah-langkah pencegahan dengan menyebarkan visual macam infografis di facebook, Twitter, Tencent dan Instagram. Mereka kini mengambil langkah lebih jauh dengan membuat video instruksional di TikTok.
Konten WHO telah ditonton jutaan kali, menunjukkan masih banyak orang yang menggunakan akal sehat mereka dalam menghadapi ancaman corona virus. Selain WHO, organisasi-organisasi seperti Panag Merah dan UNICEF juga menjangkau anak muda lewat aplikasi berbagi video tersebut.
Walaupun upaya mereka mengesankan, tidak bisa dipungkiri video-videonya terlalu to the point dan bisa saja membosankan untuk kalangan millenial dan Gen Z yang lebih suka meme dan lelucon receh.



Komentar
Posting Komentar